BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Dalam studi hubungan internasional
(HI), geopolitik merupakan suatu kajian yang memandang hubungan internasional
dari sudut pandang ruang. Konteks di mana hubungan itu terjadi secara
bervariasi dalam kerangka fungsi interaksi, lingkup wilayah, dan hirarki aktor
dari lingkup lokal, nasional, internasional, sampai benua-kawasan, bahkan
internasional-global. Geopolitik mengkaji makna strategis dan politis suatu
wilayah geografi, yang mencakup lokasi, luas serta sumber daya alam wilayah
tersebut, sedangkan geostrategi adalah pelaksanaan geopolitik dalam negara,
lebih lanjut geostrategi didefinisikan sebagai kebijakan untuk menentukan
sarana-sarana, untuk mencapai tujuan politik dengan memanfaatkan konstelasi
geografi.[1]
Sebagai akibatnya geostrategi menjadi upaya menguasai sumber daya untuk tujuan
kelangsungan hidup bangsa.
Geopolitik dan geostrategi mempunyai empat
unsur yang membangun, yaitu keadaan geografis, politik dan strategi, hubungan
timbal balik antara geografi dan politik, serta unsur kebijaksanaan. Dalam
makalah ini penulis memfokuskan kajian geopolitik dan geostrategi pada satu
negara tertentu yaitu Iran
beserta pengaruh idiosinkratik dari pemimpinnya yang sangat berpengaruh saat
ini, Presiden Ahmadinejad. Peran sebagai presiden memang saat penting di Iran ,
apalagi paska penghapusan perdana menteri saat berevolusi menjadi negara
republik. Alasan pemilihan tema ini adalah didasari oleh kepemimpinan
kontroversial dari figur tersebut, mulai dari kebijakan geopolitik dan
geostrategi Iran, reformasi pemerintahan, berbagai pernyataannya yang
mengundang sorotan dunia dan berbagai keberhasilan yang membuatnya kembali
terpilih pada pemilu 2009 ini.[2]
Hal penting yang perlu dipertanyakan disini adalah
seberapa besar faktor idiosinkratik Ahmadinejad berpengaruh pada pengambilan
kebijakan geopolitik dan geostrategi dari negara Iran
serta bagaimana prospek Iran
ke depannya? Apakah mengalami stagnasi atau justru Ahmadinejad membawa “sejuta”
ide revolusioner lainnya untuk menaikkan posisi tawar Iran dalam kancah perpolitikan
internasional?
Untuk menjawab beberapa pertanyaan di atas, penulis
mengajukan beberapa pendekatan, diantaranya adalah penggolongan masukan
(cluster of inputs) yang merupakan pemikiran James N. Rosenau.[3]
Dimana penempuh studi mengenai kebijakan dapat memilih dan menggabungkan faktor
yang paling penting dan patut diberi perhatian dalam menjelaskan perpolitikan
suatu negara yang diteliti-sistemik, masyarakat, pemerintahan dan
idiosinkratik. Hal ini juga didukung oleh pengklasifikasian Howard Lentner
mengenai determinan luar negeri dan determinan domestik, dimana faktor individu
termasuk didalamnya.[4]
Pendekatan kedua
adalah dari aspek geopolitik dan geostrategi yang merupakan variabel yang
dipengaruhi dalam permasalahan di atas. Untuk memberi gambaran dan bukti
tentang nilai strategis Iran sehingga layak untuk ditelaah lebih mendalam
karena menjanjikan prospek yang bagus, baik dari segi wilayahnya maupun potensi
teknologi dan sumber dayanya seperti minyak, gas alam dan nuklir.
Sebagai penguat
argumen ini penulis bersandarkan pada teori Mackinder tentang Eurasia yang
merupakan kunci untuk menguasai dunia- Iran termasuk di dalam kawasan tersebut.
Serta teori Karl Haushofer tentang Wehrgeopolitik yang rawan konflik, karena
posisi Iran yang berada diantara Timur dan Barat. Dari sekilas pandang pada
konsep di atas, maka penulis melihat ada keterkaitan erat idiosinkratik peran
presiden Iran pada pembuatan kebijakannya terkait aspek geopolitik dan
geostrategi Iran, baik melalui pemanfaatan media teknologi dan sumber daya alam
yang dimiliki.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Geopolitik dan Geostrategi
Iran
Aspek
geografis adalah sebuah anugerah atau pemberian berbeda dengan konteks
perpolitikan yang selalu berubah. Jadi sangat beruntung sekali Iran karena berada
di persimpangan Timur Tengah, Asia Barat dan Kaukasus. Dimana bagian utara Iran bertetangga dengan Armenia, Azerbaijan, Turkmenistan,
bagian timurnya bersebelahan dengan Afganistan dan Pakistan, sedangkan sebagian
besar sayap baratnya berhimpitan dengan Irak dan sebagian kecilnya dengan
Turki.
Teluk Persia membentang di
barat daya Asia di antara Iran dan Jazirah Arab dan Selat Hormuz menghubungkan
Teluk Persia dengan Teluk Oman. Letak Iran di pusat Eurasia inilah yang selama
ribuan tahun menjadikan Iran bagaikan “menara pengintai” sekaligus benteng
pertahanan Timur ataupun Barat. Sehingga setiap kali suatu kekuatan dari Barat
hendak menyerang belahan Timur atau sebaliknya, maka ia akan menjadikan Iran
sebagai garis depan.
Bila mengikuti pola berpikir
Karl Haushofer tentang Wehrgeopolitik, posisi geografis yang sedemikian ini
menjadikan Iran sebagai daerah rawan gesekan. Kenyataan geopolitik ini membuat
bangsa Iran selama berabad-abad menjadi saksi berbagai perang besar sekaligus
terlibat dalam banyak peperangan, salah satunya adalah antara Inggris melawan
Rusia dan India. Keberadaan Iran di
Eurasia (Eropa dan Asia) juga merupakan hal yang penting karena merupakan
bagian ”heartland” yang dimaksud Mackinder, sehingga barangsiapa yang
menguasainya akan dapat menguasai dunia. Heartland banyak diperebutkan karena
sumber daya alamnya yang potensial di bidang energi seperti minyak bumi dan
gas.
Dalam geostrategi energi,
posisi geografi Iran memang sangat menguntungkan karena memiliki akses ke Laut
Kaspia yang mengandung potensi kekayaan minyak dan gas. Iran secara otomatis
menjadi salah satu negara vital yang dilewati oleh pipa-pipa minyak dan gas
menuju Asia, seperti ke India, Pakistan, dan China. Di samping itu Selat Hormuz
juga dilalui oleh kapal-kapal tanker pengangkut minyak sedunia.
Selain memiliki posisi
wilayah yang strategis di Timur Tengah, Iran adalah negara yang kaya akan
sumber energi. Iran adalah salah satu negara anggota OPEC yang mempunyai
potensi minyak Khuzestan dan gas yang luar biasa terutama di Pars Selatan
(280-500 Tcf kandungan cadangan gasnya dan 17 miliar barrel kandungan minyak).
Melihat kondisi geostrategi dan geopolitik energi yang dimiliki Iran maka sangat
wajar jika Iran menjadi incaran Amerika Serikat (AS).
Hal ini didukung oleh
pernyataan Prof Michael T Clare, penulis buku Blood and Oil, apa pun alasan
yang dikemukakan AS untuk menggulingkan Pemerintah Iran saat ini, baik nuklir,
rezim pemerintahan yang tiran, pelanggaran HAM ataupun terorisme, motif
utamanya adalah menguasai sumber minyak bumi negara tersebut. Selain itu, AS
mengincar Iran karena tidak ingin dominasinya di Timur Tengah terganggu
disebabkan Iran yang kaya akan sumber alam yang sedang melakukan ekspansi
geopolitik dan ekonomi di kawasan Eurasia bersama Rusia dan China untuk
melakukan bisnis listrik-kedua negara tersebut memiliki hubungan yang tidak
harmonis dengan AS di masa lalu dan melakukan banyak persaingan di masa
sekarang.
AS semakin jengkel dengan Iran
karena telah meluncurkan pusat perdagangan minyak alternatif dengan menggunakan
mata uang Euro yang menjadi ancaman bagi dominasi rezim mata uang Dollar
Amerika di dunia. Hal penting yang bisa ditarik dari pemaparan di atas adalah tentang
kemungkinan terbesar AS menyerang Iran adalah karena pragmatisme kepentingan
belaka, karena dalih keberadaan senjata pemusnah massal juga pernah dituduhkan
ke Irak namun sampai sekarang belum terbukti. Apalagi dari pihak IAEA sendiri
pun mengatakan bahwa Iran murni melakukan pengembangan energi untuk menyuplai
listrik di negaranya, sama sekali tidak ada indikasi ke arah pembuatan senjata.
Jadi pada era kontemporer ini, pemikiran geopolitik Iran lebih pada
orientasi energi yaitu bagaimana memanfaatkan minyak yang dimilikinya untuk
kemudian juga disatukan dengan kekuatan nuklir.
2.2 Pengaruh Idiosinkratik
dalam Geostrategi dan Geopolitik
Pergeseran
orientasi geopolitik Iran yang dulunya ditekankan pada pengembangan supremasi
transportasi dan pertahanan darat serta udara menuju energi, tak lain adalah
pengaruh kebijakan kepala negara Iran di era kontemporer salah satunya adalah
Ahmadinejad. Idiosinkratik-pengalaman, bakat, kepribadian, persepsi dan
kalkulasi serta perilaku- Nejad meliputi: meraih gelar doktor dalam bidang
teknik dan perencanaan lalu lintas dan transportasi,sehingga wajar bila dalam pemerintahannya dipusatkan pada kelanjutan
pengembangan energi nuklir yang sudah ada sejak era Shah Reza Pahlevi; sebelum
menjabat sebagai presiden, Nejad bekerja menjadi dosen, pernah bergabung dengan
Korps Pengawal Revolusi Islam pada tahun 1986, menjadi wakil gubernur dan
gubernur Maku dan Khoy, Penasehat Menteri Kebudayaan dan Ajaran Islam, dan
gubernur provinsi Ardabil, dan walikota Teheran.
Sikap dan perilaku sederhana Nejad bukan berarti menunjukkan sosok pribadi yang
lemah, Nejad termasuk tipikal orang yang cenderung konfrontatif daripada
kompromis dalam menyikapi aksi AS yang menyebut Iran sebagai bagian Axis of
evil karena menyeponsori tindak terorisme di Afganistan dan Lebanon.
Ahmadinejad tidak diam begitu saja atas tuduhan tersebut, ia sempat melakukan
konfirmasi bahwa Iran sebagai negara Islam yang cinta damai justru mendukung tindakan
pemberantasan terorisme.
Hal ini ditegaskan pada pasal
154 UUD Republik Islam Iran yang menyatakan:“Republik Islam Iran beraspirasi
untuk kebahagiaan manusiawi dalam lingkungan umat manusia serta mengakui
kemerdekaan, kebebasan, keadilan, dan kebenaran sebagai hak-hak yang
harus dinikmati oleh semua manusia sedunia. Kemudian untuk tuduhan lain yang dilontarkan yaitu seputar pengembangan
nuklir, Ahmadinejad sempat memberikan pernyataan terbaru paska terpilihnya
kembali sebagai Presiden Iran, yaitu Iran hanya mau membahas kerjasama untuk mengatasi
maslah global dan tidak mau membahas lagi masalah nuklir. Semua resiko termasuk ancaman tiga embargo sekaligus, sama sekali tidak
menyurutkan ambisi tersebut, apalagi keputusannya didukung oleh mayoritas warga
Iran dan Khomeini sebagai ulama dan pemimpin agung.
Bila ditinjau lebih jauh,
alasan Iran mengembangkan nuklir adalah urusan dalam negerinya, sehingga AS
tidak berhak untuk mengintervensi. Apalagi non proliferation treaty (NPT)
membenarkan para penanda tangan untuk menggunakan nuklir guna pembangkit
listrik. Mengapa Iran tidak dibenarkan saat negara lain sudah melakukannya?
Padahal India yang bukan penandatangan NPT justru malah ditawari
Washington akses luas pada teknologi nuklir AS. Bagaimana mungkin seluruh dunia
mengecam Iran yang belum pernah menggunakan senjata nuklirnya-kalaupun ada- dan
justru malah mendukung kecaman AS yang jelas-jelas pernah menggunakan bom atom
untuk menghancurkan Jepang dalam Perang Dunia II.
Padahal tujuannya sudah jelas
dari awal, yaitu karena kebutuhan listrik Iran terus meningkat 7-8 persen per
tahun. Pada tahun 2005 kebutuhan mencapai 36.000 Mw. Hanya tujuh persen
kebutuhan listrik Iran berasal dari hidroelektrik, sisanya bergantung minyak
dan gas, padahal harga minyak terus meningkat. Bukankah sudah menjadi tugas
suatu negara bila memenuhi kebutuhan rakyatnya, apalagi peluang bisnis listrik
ini bisa dijadikan suatu bisnis dalam skala luas dengan bekerjasama dengan
Rusia dan India. Selain itu nuklir memiliki resiko kecil dan tingkat
keamanannya terjamin, serta bisa didaur ulang. Cara ini diharapkan akan
mengurangi ketergantungan konsumsi minyak yang tidak bisa diperbarui.
Bebagai keberhasilan iptek
Iran tersebut tak lepas dari tingginya riset yang dilakukan ilmuwan Iran,
mereka melakukan rekonstruksi persenjataan dan teknologi yang mereka impor dari
Rusia, Cina dan Korea Utara. Semua alutsista Iran hanya untuk pertahanan saja.
Namun komentar Ahmadinejad tentang rencananya menghapuskan Israel dari peta
dunia atas konflik Palestina-Israel yang terjadi dan menganggap Holocaus
sebagai mitos yang dibuat-buat atau terlalu dilebih-lebihkan- kalaupun terjadi
bukan Palestina yang menanggung akibatnya tapi Jermanlah yang mesti bertanggung
jawab karena Hitler berasal dari negara tersebut,menimbulkan persepsi ancaman bagi negara lain.
Hal ini dapat dipahami dengan
upaya pengonstruksian pemikiran suatu negara saja, bila suatu negara
menginginkan damai maka bersiap-siaplah untuk damai bukan bersiap siap untuk
perang (Civis pacem para pacem). Hal ini juga dikomentari Nejad saat sesi tanya
jawab di Universitas Columbia: ”Tidakkah anda berpikir bahwa banyak
permasalahan di dunia ini datang dari cara anda memandang isu-isu, dari cara
berpikir macam ini, dari pendekatan pesimistis semacam ini terhadap banyak
orang, dan dari level tertentu egoisme. Semua itu harus dikesampingkan sehingga
kita dapat menunjukkan rasa hormat kepada setiap orang, membiarkan sebuah
lingkungan persahabatan untuk tumbuh, membiarkan semua bangsa untuk berbicara
satu sama lain, dan bergerak ke arah perdamaian?”
Sangat menarik sekali memang membahas idiosinkratik tokoh ”sekaliber”
Ahmadinejad, yang bisa berbicara sekaligus bisa membuktikannya. Ada beberapa
keberhasilannya yang bisa dijadikan contoh oleh negara lain,yaitu berani menolak intervensi negara lain, karena ini menyangkut kedaulatan;
untuk urusan dalam negeri Ahmadinejad melakukan beberapa program baru
seperti penggunaan smart card untuk mengurangi konsumsi minyak, sehingga
produksi yang dihasilkan bisa diekspor, safari kunjungan ke berbagai daerah
sekaligus menyelesaikan permasalahan yang ada di tempat itu juga, pemangkasan
prosedur birokrasi dan tradisi seremonial demi kepentingan rakyat, memegang
rekor kepemimpinan yang paling aktif yang dibuktikan dengan berbagai proyek besar bagi
pengembangan ekonomi Iran. Hal itu dilaksanakan di tengah-tengah perubahan
radikal yang dilakukan di badan pemerintah dan rintangan-rintangan yang
dihadapi pemerintah, khususnya masalah politik luar negeri. Hal ini
meningkatkan antusiasme dukungan dan kepercayaan rakyat yang terus mengalir
bahkan saat pemilu 2009 ini.
Namun bukan berarti pemerintahan Nejad tidak ada hambatan, pada saat penerapan smart
card banyak rakyat yang mengecam dan terjadi kerusuhan dimana-mana karena
penerapannya hanya 2 jam setelah diumumkan.Berbagai unjuk rasa
juga mewarnai hasil pemilu 2009 lalu, karena tuduhan kecurangan Nejad yang
dilakukan pesaingnya Mousavi. Khomeini sebagai pimpinan agung menyatakan bahwa
perhitungan pemilu tidak perlu diulang, karena kerusuhan yang terjadi ini hanyalah
provokasi oleh negara luar.
Semestinya Mousavi
”legawa”atas kekalahannya itu dan bersedia menjadi oposisi untuk mengawasi
pemerintahan Ahmadinejad ke depannya untuk masa depan Iran yang lebih baik,
bukan malah mengerahkan massanya. Kemudian gaya bicara Nejad yang terlalu
percaya diri dan radikal dapat dimanfaatkan oleh negara lain untuk
menghancurkan Iran. Hal ini terbukti dari ungkapan Israel yang senang karena
Nejad terpilih kembali, dengan begitu tekanan internasional akan terus
berlanjut di Iran, begitu pula dengan badan intelijen AS yang menyatakan bahwa
Nejad adalah informan berharga karena setiap informasi yang dibutuhkan AS
keluar dengan lugas dari mulutnya.
Berbeda dengan pemerintahan
sebelumnya, yaitu Khatami yang lebih lunak pada AS dan Israel dan aktif dalam
PBB. Bila dibandingkan dengan Nejad, Khatami ini merupakan seorang intelektual,
filosof, dan politikus Iran. Ia tampil keempat sebagai Presiden Iran pada
periode 1997-2005 dan digantikan Mahmoud Ahmadinejad. Sebagian besar memilih
Khatami karena janjinya untuk meningkatkan status wanita dan tanggap akan
permintaan generasi muda Iran. Khatami dianggap sebagai presiden reformis
pertama di Iran karena kampanyenya memfokuskan pada penegakan hukum, demokrasi
dan pencakupan seluruh rakyat Iran dalam proses perencanaan politik.
Hal ini sering bertentangan
dengan pemikiran kaum garis keras yang mayoritas menjadi pejabat di Iran. Celah
ini dapat tertutupi dengan agresivitas Ahmadinejad dalam menanggapi isu dalam
maupun luar negeri. Program Khatami sebenarnya tak berbeda jauh dengan Nejad
namun pelaksanaanya kurang cepat dan nyata, seperti masalah pembangunan
pemukiman warga. Dari beberapa fakta yang disajikan dan beberapa argumen
pribadi penulis, sudah jelas sekali bila Iran identik dengan Ahmadinejad
termasuk aspek geopolitik dan geostrateginya di era kontemporer. Hal ini bisa
disamakan dengan profil Hitler yang identik dengan Jerman dan Kim Il Sung
dengan Korutnya.
BAB III
PENUTUP
3.I Kesimpulan
Prospek geopolitik dan geostrategi Iran ke depannya, sepertinya masih sama
yaitu melanjutkan pengembangan nuklir dengan lebih progresif, hal ini sebagai
bentuk untuk menggalang dukungan dari simpatisan Mousavi dan rakyat Iran
lainnya paska pemilu; membatasi konsumsi minyak dalam negeri dan memaksimalkan
ekspor, pengintesifan hubungan dengan Rusia, Cina bahkan India karena Iran
ditunjuk sebagai observer dari SOC-organisasi kerjasama damai antara tiga
negara tersebut dengan Asia Tengah; Hubungan dengan AS hanya terkait dibidang
pemberantasn terorisme dan perdagangan; sedangkan dengan Israel, Iran masih
konsisten menerapkan strategi ofensif sebagai suatu solidaritas atas
pelanggaran HAM, pelanggaran kedaulatan dan pengusiran warga asli palestina.
Selain itu gaya konfrontatif dengan barat juga masih berlanjut sehubungan
dengan penolakan imbalan keuangan dan akses perdagangan yang ditawarkan Obama.
Karisma Nejad dan solidnya
dukungan di tingkat akar rumput serta restu dari ulama sekaligus pemimpin
tertinggi Iran, ditambah dengan pemaksimalan potensi dalam negeri yang
responsif akan berbagai peluang dan tantangan internasional adalah kunci Iran
bisa berhasil dan sukses seperti sekarang. Meskipun didera embargo
puluhan tahun dan persaingan yang dinamis dalam tatanan dunia anarki, Iran
sanggup bertahan dan berdiri ”dikakinya sendiri”. Bukan suatu keniscayaan lagi
bila periode kedua Nejad menjabat, perekonomian Iran beralih dari berkembang
menjadi maju.
DAFTAR REFERENSI
Harian Seputar Indonesia edisi 25 April 2008
Harian Tempo edisi 26 April 2008
http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/6243644.stm diakses 29 September
2010
http://pubs.usgs.gov/of/1997/ofr-97-470/OF97-470G/iranGmap.html
diakses 29 September
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/05/26/65109/Ahmadinejad.Tolak.Proposal.Barat
diakses 29 September 2010
Mahmoud Ahmadinejad di globalsecurity.org diakses pada 29 September 2010
I. Hidayat, Mardiyono. 1983. Geopolitik, Teori dan Strategi Politik
dalam Hubungannya dengan Manusia, Ruang dan Sumber Daya Alam. Surabaya Usaha Nasional.
Iran
CIA map.jpg diakses 29 September 2010
Lenczowski, George. 2003. Timur
Tengah di Tengah Kancah Dunia. Bandung
: Sinar Baru Algensindo
Lentner, Howard. 1974. Foreign
Policy Analysis: A Comparative and Conceptual Approach. Ohio : Bill and Howell Co.,hal.18.
Notulensi Pidato Ahmadinejad di Universitas Columbia diakses 29 September 2010
[1]
Mardiyono I. Hidayat. 1983. Geopolitik, Teori dan
Strategi Politik dalam Hubungannya dengan Manusia, Ruang dan Sumber Daya Alam.
Surabaya Usaha Nasional.
[2]
Ibid.
[3]
Howard Lentner. 1974. Foreign
Policy Analysis: A Comparative and Conceptual Approach. Ohio : Bill and Howell Co.,hal.18.
[4]
Ibid. hal. 105-171
[10]
Iran in The World Fact book 2007
[14]
Pesona
Iran oleh Musthafa Abd Rahman diakses melalui http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0110/03/LN/peso03.htm pada 30 September 2010
[20]
http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/6243644.stm
diakses 29 September 2010
Komentar
Posting Komentar