Langsung ke konten utama

Pendidikan Kita : Kembali ke jalan yang benar…..?


Pendidikan selalu diberi bobot nilai-nilai normatif, demikian juga dalam Undang-undang Sisdiknas dimana Pendidikan diberi makna yang syarat dengan nilai-nilai luhur yang harus terjadi. Namun apakah itu tercermin dalam praktek pendidikan ?, inilah masalahnya, selalu terdapat kesenjangan yang makin lama makin lebar antara apa yang diharapkan bangsa Indonesia dari Pendidikan dengan apa yang dilakukan dalam tataran praktis pendidikan/pembelajaran.
Pendidikan harus mendorong terwujudnya manusia yang dewasa secara personal, sosial dan moral, namun ketika aspek pragmatis kecerdasan intelektual kognitif menjadi konsern utama, maka banyak hal yang dikorbankan, dan pengorbanan itu justru lebih tinggi nilainya dari sekedar kecerdasan (seperti kejujuran, keadilan, kemandirian, percaya diri). Ketika praktek pendidikan di Sekolah bersibuk diri dengan upaya peningkatan kemampuan siswa untuk lulus Ujian Nasional, sebenarnya tidak ada yang salah dengan upaya tersebut selama sejalan dengan prinsip-prinsip pendidikan dan pembelajaran, namun ketika ada upaya lain yang memaksakan pencapaian target tertentu diluar kaidah pendidikan, seperti pengkondisian dan distribusiinfo, maka sebenarnya pendidikan kita telah memasuki jalan yang sesat dan menyesatkan.
Sesat karena berada diluar kaidah pendidikan, menyesatkan karena output atau lulusannya nanti akan menggantikan posisi-posisi pendidikan yang jelas sudah tertular dan terkontaminasi dengan apa yang dialaminya pada saat Ujian di Sekolah, sehingga mereka juga cenderung akan menyesatkan pendidikan dan pembelajaran seterusnya. Jadilah generasi pendidikan yang sesat dan menyesatkan. Dan bangsa ini akan dipenuhi dengan   warga sesat dan menyesatkan. Dan kita perlu khawatir dengan PENDIDIKAN SESAT DAN MENYESATKAN. Semoga masih ada nilai dan akal sehat. Nah dalam konteks ini pengembangan pendidikan karakter merupakan upaya koreksi agar pendidikan KEMBALI KE JALAN YANG BENAR…masalahnya tinggal bagaimana implementasinya serta eliminasi faktor pengganggu yang sistemik……

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH DESA DARMA

ASAL USUL DESA DARMA KEC. DARMA , KAB. KUNINGAN Oleh : FIKI PRIYATNA Alkisah Desa Darma awalna lain mangrupa desa, tapi jaman baheula mah ngan sakedar hiji tempat anu dijadikeun pos pertahanan karajaan islam Cirebon pikeun nyerang jeung tempat pertahanan ngalawan Karajaan Galuh Talaga sareung Karajaan Galuh Ciamis. Dina peperangan antara Karajaan Islam Cirebon sareung KarajaanGaluh Talaga geus sababaraha kali,dina salila 5 tahun aya 15 kali patempuran. Diperkirakeun mulai tahun 1528 M. dina paperangan anu mungkasan Desa Darma dijadikeun pos pertahan terahir, eta sakabeh kakuatan Kerajaan Islam saperti Karajaan Islam ti Sumatra, Malaka, Banten Demak ku Karajaan Islam Cirebon dikerahkeun pikeun nyerang Karajaan Galuh Talaga jeung Karajaan Galuh Ciamis. Di perbatasan Karajaan Galuh Talaga jeung Karajaan Islam Cirebon serangan pasukan Prabu Jaya ti pihak Karajaan Galuh Talaga dihadang ku pasukan Adipati Kuningan Suraga Jaya, Suraga Jaya nyaeta putra Ki Gedeng Luragu...

TUNJANGAN PEJABAT CAPAI PULUHAN JUTA, BANYAK PEMDA TERANCAM BANGKRUT

TUNJANGAN PEJABAT CAPAI PULUHAN JUTA, BANYAK PEMDA TERANCAM BANGKRUT Oleh : FIKI PRIYATNA Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) merilis data tentang 124 pemerintah daerah (pemda) yang terancam bangkrut. Alasannya pada APBD 2011, 124 daerah itu memiliki belanja pegawai di atas 60 persen dan belanja modalnya 1 hingga 15 persen. Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pada, melansir, di luar gaji pokok yang diterima pejabat. Mereka masih menerima berbagai tunjangan yang nilainya berlipat dibanding gaji pokoknya. Ingin berapa jumlah penerimaan tunjangan pejabat per bulannya? Berikut ini daftarnya. Pejabat eselon I Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mendapat tunjangan sebesar Rp 50 juta. Untuk pejabat eselon II 2 Rp 28 juta, eselon III Rp 10,55 juta, eselon IV Rp 6,56 juta, dan staf Rp 5,85 juta. Adapun, pejabat eselon I Pemprov Banten mendapat tunjangan sebanyak Rp 50 juta. Untuk pejabat eselon II Rp 11,48 juta, pejabat eselon III Rp 4,21 juta, pejabat ...

MENDENGAR DAN MENGOLAH BAHASA

Sistem pendengaran Dihadapkan dengan pilihan sewenang-wenang antara kehilangan penggunaan mata seseorang atau telinga seseorang, kebanyakan orang mengatakan bahwa mereka akan lebih suka rasa kehilangan pendengaran. Namun, mereka mungkin meremehkan pentingnya audisi. Meskipun Anda sedang membaca, paling komunikasi di mana Anda terlibat mungkin tidak sepenuhnya visual. Mata Anda memberikan informasi tentang obyek dan orang-orang yang tersembunyi dari pandangan (sekitar sudut, dalam kegelapan, dll) serta objek di depan mata. Melokalisir objek sering dianggap sebagai domain dari visi, namun sistem pendengaran juga indah efisien menunjukkan posisi obyek di samping keberadaan objek. Anda mungkin mendengar teka-teki klasik: "Jika pohon tumbang di hutan dan tak ada yang mendengarnya, bukan bersuara?" Pertanyaan ini sering bunga api perdebatan, tetapi jawabannya adalah sangat sederhana: No Sounds membutuhkan otak untuk persepsi mereka. Rangsangan secara fisik yang dianggap s...